Audio:
Sambungan langsung (direct links) kepada rekaman siaran dari pemancar-pemancar radio tersebut dibawah akan menyusul.
Radio Sonora Jakarta – 10 Oktober, 2010.
Radio Raka Bandung – 11 Oktober 2011.
Radio Sonora Bandung - 12 Oktober, 2010
Radio Sonora Jogya – 18 Oktober, 2010.
Suara Mitri Surabaya – 22 Oktober, 2010.
Radio Sonora Surabaya – 22 Oktober, 2010.
Perpustakaan C2O:
http://c2o-library.net/2010/10/only-a-girl/
Majalah Kabari:
Sambungan langsung (direct links) kepada risensi dari surat kabar tersebut dibawah akan menyusul.
Jawa Pos – 27 Oktober 2010.
Lampion – 31 Oktober 2010.
Kompas
Radar Jawa Timur
Surya
Antara
Resensi:
Untuk membaca pendapat-pendapat pembaca yang lengkap, silahkan melihat di Only a Girl: Lian Gouw
Manneke Budiman
Selain bertutur tentang riwayat hidup yang amat menyentuh sebuah keluarga Tionghoa-Indonesia di sela-sela gejolak perang dan revolusi, Menantang Phoenix juga menantang pembaca untuk mendalami kompleksitas di seputar gagasan ‘kemajuan’, sebagaimana dipahami dan digeluti setiap tokoh dalam novel ini. Ada kalanya ketika mereka merangkul kemajuan demi menangkap peluang yang ditawarkan hidup kepada mereka, namun ada juga masa ketika mereka harus menolak kemajuan demi kesintasan hidup mereka di tengah terpaan hidup yang mahasulit. Lian Gouw membukakan pintu masuk yang baru untuk memahami saling-silang antara kelas-jender-etnisitas yang pelik dalam konteks lintas-bangsa, sembari menolak godaan untuk secara tergesa menjatuhkan vonis moral pada cara pandang setiap tokoh terhadap diri mereka sendiri, dan laku yang mereka ambil sebagai konsekuensi cakrawala diri tersebut.
Widjajanti Dharmowijono, Ph.D
Judul Only A Girl / Menantang Phoenix mengacu pada tradisi Cina yang meremehkan anak perempuan karena anak lelakilah yang meneruskan garis keluarga. Menurut penulis novel, Lian Gouw yang berdiam di Amerika Serikat, penerbit bermaksud memakai naga sebagai ikon budaya Cina, sedangkan robekan kertas diagonal merepresentasikan penolakan tokoh utama, Carolien Ong, terhadap tradisi Cina.
Judul Only A Girl berkenaan dengan setiap perempuan dalam novel, tetapi terutama bayi perempuan yang dibuang di tengah Pecinan yang rusak berat. Ketika orang tuanya mengungsi, mereka hanya mengajak kedua anak lelaki mereka dan menyerahkan anak perempuannya kepada belas kasihan orang yang kebetulan lewat. Judul juga berhubungan dengan seorang perempuan yang hanya disebut namanya satu kali dalam novel, yaitu anak perempuan Ocho. Gadis ini ternyata tidak merupakan alasan cukup kuat bagi seorang raja gula untuk menikahi Ocho, simpanannya.
Only A Girl/ Menantang Phoenix makin menarik karena dilatarbelakangi peristiwa historis. Tahun 1931 hinga 1950 adalah periode depresi dunia, pendudukan Jepang, revolusi Indonesia, dekolonisasi dan kebangkitan nasionalisme Indonesia baru. Inilah saat kelompok minoritas Tionghoa di Indonesia harus menentukan masa depannya, dan dalam melakukan itu, mereka harus berpihak. Akankah mereka loyal kepada Belanda, Tiongkok atau Indonesia? Apa yang akan menjadi panduannya? Barangkali Nanna mengatakan semuanya: ‘Kebahagiaan adalah ketenangan. Kamu tidak akan tenang tanpa merasa aman. Dan kamu tidak akan merasa aman, kecuali berada dalam situasi yang stabil’. Dalam pencarian keamanan itu, Nanna, anak-anak dan cucu-cucunya memilih jalan berbeda.
Beberapa pembaca mungkin merasa tersinggung oleh pendapat Nanna dan Carolien, yang mengganggap Indonesia bangsa ‘petani dan pembantu’ yang tak mampu memerintah negara dan mendidik generasi muda. Dalam diskusi dengan pembaca lain, muncul kekhawatiran bahwa orang melihat Nanna dan Carolien seakan-akan mewakili semua orang Tionghoa di Indonesia, sehingga menimbulkan atau memperkuat praduga bahwa orang Tionghoa tidak berbuat apa-apa demi kemerdekaan Indonesia dan bahkan melawannya.
Namun harus diingat bahwa masyarakat kolonial adalah masyarakat yang terbelah. Keterbelahan ini tidak terjadi secara spontan, tetapi merupakan akibat dari aturan yang selama berabad-abad dipaksakan kepada penduduk. Hidup dan mati Hindia-Belanda tergantung dari seberapa cerdiknya pemerintah kolonial merancang dan mempertahankan keterbelahan itu. Ada peraturan mengenai busana yang harus dikenakan oleh masing-masing kelompok etnis, pembatasan bepergian dan tempat tinggal. Passenstelsel dan wijkenstelsel yang terutama dimaksudkan untuk mengekang gerak orang Tionghoa, membuat mereka hidup terpisah dari kelompok-kelompok lain, yang memang menjadi tujuan pemerintah. Pula, ini adalah masyarakat yang mayoritas penduduk bumiputranya dengan sengaja tidak dididik, kendati ada Politik Etis. Tidaklah mengherankan bahwa dalam anggapan keluarga Nanna, penduduk bumiputra hanya bisa mempunyai pekerjaan yang sederhana.
Lian Gouw adalah pencerita ulung yang berhasil menggambarkan sebuah keluarga Tionghoa Peranakan yang mencari keseimbangan dan kedamaian dalam masyarakat yang sangat cepat berubah. Lebih penting lagi, dia juga berhasil melukiskan sebuah negeri yang penduduknya tercerai-berai akibat politik kolonisasi dan perang.
Soe Tjen Marching, Ph.D
Pada masa Orde Baru, Tionghoa masih terstigma dalam ideologi sang penguasa. Kisah-kisah tentang Tionghoa menjadi sangat terbatas. Ketika Soeharto lengser, sastra Indonesia dibanjiri oleh penulis perempuan, dan penulisan tentang Tionghoa juga mulai tumbuh. Biasanya, Tionghoa yang diceritakan adalah mereka yang pro-Indonesia atau beberapa yang lebih pro-Tiongkok. Tapi, cerita tentang Tionghoa yang dekat dengan budaya Belanda, masih jarang.
Novel Lian Gouw mengisi “kekosongan” ini. Alur ceritanya cukup sederhana. Yaitu, perempuan dari tiga generasi yang tinggal di masa penjajahan Belanda, Jepang, sampai dengan Kemerdekaan Indonesia. Lian menguak kehidupan mereka sehari-hari, dan juga perjuangan mereka. Ketiga karakter perempuan yang cukup kuat ini, tidak begitu saja mendapat simpati penuh dari Lian. Sang penulis masih kritis dengan para karakternya. Dan inilah yang membuat novel ini terkesan realistis dan tidak dibuat-buat seperti kebanyakan sinetron Indonesia.
Beberapa adegan atau keputusan karakternya pun tidak dibuat sebagai sesuatu yang benar atau salah, tapi lebih pada masalah pilihan. Misalnya, ketika Carolien memutuskan untuk meninggalkan suaminya. Padahal suami Carolien, seorang fotografer bernama Po Han, adalah lelaki yang cukup setia dan amat menyayangi Carolien. Dan perjuangannya untuk mempertahankan Carolien juga cukup berat, karena pernikahan mereka ditentang habis-habisan oleh nenek Po Han dengan segala strategi, bahkan dengan menggunakan ilmu hitam.
Namun, Carolien merasa Po Han tidak bisa memberi nafkah yang layak kepada anaknya, Jenny. Lian tidak memihak dan tidak menstigma keputusan Carolien dalam hal ini. Padahal, perempuan Indonesia yang memutuskan untuk menceraikan suami biasanya tidak akan mendapat dukungan dari masyarakat, dan biasanya akan dianggap perempuan tidak setia atau bahkan “kejam”.
Tokoh utama yang lain, Jenny, yang saya rasa paling simpatik dalam novel ini, juga tidak luput dari kritik sang penulis. Jenny yang ramah dan humanis, ternyata juga masih rasis terutama terhadap para pribumi di Indonesia. Karena latar pendidikan Belandanya, Jenny menolak “menghabiskan” waktunya untuk belajar bahasa Indonesia. Ia bahkan tidak suka mempunyai guru pribumi. Karena keluarga Jenny dan Carolien menganggap bahwa pribumi derajatnya lebih rendah dari mereka. Namun, dalam novel ini, mereka justru diingatkan oleh pembantu mereka saat rakyat berusaha meraih kemerdekaan dan memberontak di sana-sini. “Ini suara rakyat”, seru pembantu itu kepada keluarga yang tidak mau tahu tentang rakyat ini.
Buku Only a Girl diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Only a Girl: Menantang Phoenix. Sebuah judul kentara sekali yang dipilih demi nilai komersial buku ini. Padahal, menurut Lian sendiri: “Tidak ada burung Phoenix di buku ini. Yang ada hanya burung beo!”. Terjemahan dalam bahasa Indonesia juga cukup mengecewakan, karena terasa sekali bahwa penerjemah tidak mengaji kelancaran bahasanya, tapi sekedar menterjemahkan. Sangat disayangkan untuk buku seperti ini!
- Pustakawati Perpustakaan C2O – Surabaya.
- Dosen Universitas Ciputra – Surabaya.
Sebagai sisa-sisa larangan menyinggung SARA dari era Orde Baru, di Indonesia jarang sekali kita jumpai novel tentang Tionghoa, apalagi yang pro-Belanda. Kalaupun ada, hampir semuanya merujuk ke tradisi Tiongkok. Di sini kita bisa melihat keanekaragaman masyarakat Tionghoa di Indonesia—ada yang pro-Belanda, pro-Cina, pro-pribumi, dengan segala permasalahan dan pergulatannya yang kompleks. Dari gaya hidup, bahasa, nama, dan kebiasaan yang muncul dalam novel ini, kita bisa melihat berbagai campur aduk perasaan, ideologi, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang kerap terabaikan, seiring dengan pergeseran-pergeseran nilai dan perubahan sosialnya. Ditulis dengan ringan, menarik dan sangat manusiawi, buku ini memberi kita pemahaman mengenai satu serpihan kebudayaan dan masa lalu Indonesia yang terlupakan.
- Anggota Eve Book Club – Jakarta.
Only A Girl - Menantang Phoenix adalah buku fiksi yang kaya akan detil, mengangkat nilai budaya serta memberikan pembelajaran bagi para penulis dan juga pembaca. Yang paling saya sukai adalah bahwa buku Only A Girl - Menantang Phoenix merupakan buku yang penuh ketulusan, jujur dan original.